Mengembala Domba & Kisah Tragis Mandi Di Kali
Sebelumnya gue mau minta
maaf karena episode ini muncul jauh dari episode sebelumnya, memang kemarin
ceritanya sedang ada fokus yang lain mulai dari urusan studi dan organisasi
tidak kalah juga tentang urusan hati cieeee hati hehe. Sekarang gue mau balik lagi
untuk lanjutin celoteh ringannya masih dalam tajuk yang sama yakni Komedi Liar
Natural.
Kali ini gue mau cerita
kisah lawas, tepatnya ketika gue masih kanak-kanak sekitar usia 8 tahunan. Usia tahun berarti gue sedang duduk dikelas 3 SD.
Jadi kisahnya begini, sebenarnya masih aga nyambung dengan kisah sebelumnya,
tapi ini lebih real hehe. Jadi dulu waktu kecil gue sering ngembala domba
bersama kawan-kawan di kampung, karena memang hampir 90% penduduk di daerah gue
memelihara hewan ternak domba, sebagian ada juga yang mengembala kambing dan
kerbau.
Lo pada tahu ga kenapa
orang-orang dikampung gue lebih seneng ngembala domba dibanding kambing? Ada
yang bisa jawab? Ya selain Garut terkenal dengan Domba Garutnya, sebenarnya ada
alasan lain mengapa masyarakat lebih senang memelihara domba. Pertama domba
harga jualnya lebih tinggi dibanding kambing, keduanya berat maksimal domba
pada usia tertentu lebih besar dibanding kambing, ketiga domba mau dimandiin
sedangkan kambing kagak pernah mau mandi, makanya kandangnya mau kambing, domba
bisa mandi minimal seminggu sekali, jadi kalau lo pada ga suka mandi itu
artinya ga jauh beda ama kambing, tapi kalau lo masih kadang mandi seminggu
sekali itu artinya lo mirip mirip domba gaya hidup bersihnya hehe.
Tapi jujur ya, dulu waktu
gue masih ngembala domba, gue tuh rajin banget mandiin domba, kadang tiap hari
gue mandiin? Lu tahu kenapa? Pertama tentu biar badannya bersih n ga bau, kedua
biasanya kalau domba ga dimandiin makan rumputnya pindah-pindah dan itu bikin
pengembala jengkel, beda kalau abis dimandiin, ia lebih kalem dan mudah dikondisikan tempat makan rumputnya.
Sebenarnya gue bukan mau
cerita tentang kambing, tapi mau cerita yang lain hehe. Ya jadi ketika dulu
masuk musim kemarau itu musim yang paling ditunggu karena kami bisa main ke
area bekas panen sawah yang bisa kami pakai untuk ngembala domba, maklum di
daerah gue ga ada yang namaya padang rumput khusus untuk mengembala, jadinya
kalau musim hujan dombanya di ambilin rumput, kaya majikan yang dimasakin dan disediakan
makan oleh pembantunya hehe. Manja banget kalau musim hujan domba itu, kalau
rumputnya basah domba malas makan rumput. Tapi kalau musim kemarau para
pengembala membiarkan domba nyari rumput sendiri karena mau nyabit juga susah.
Yang paling seru dari
kisah tentang mengembala adalah ketika musim liburan sekolah, karena kami tahu
selepas liburan pasti wali kelas akan meminta kami untuk menulis karangan
selama liburan, dan lho bisa bayangkan kami semua anak kampung, liburannya juga
dikampung, ga pernah ada yang liburan ke kota, main ke tempat wisata,
sebenarnya udah bisa ditebak karangan kami pasti inti ceritanya sama, bangun
tidur, mengembala domba, main layangan, main di kali, berjemur, nyari belut
disawah, udah bisa gue tebak hehe, sebenarnya itu memudahkan guru untuk menilai
hasil karangan siswanya sih hehe. Mungkin untuk membedakan nilainya pertama
bisa dilihat dari bagus tidakya tulisan siswa, kedua dari panjang pendeknya
karangan yang dibuat hehe, jadi guru tidak usah baca, cukup gunakan penggaris
saja, beliau udah bisa ngasih skor hasil karangan siswanya (ini bukan metode
penilaian yang benar ya hehe).
Ok balik lagi ke inti
cerita yang sebenarnya belum tersampaikan juga sih hehe. Jadi gini salah satu
aktivitas yang bikin seru waktu mengembala adalah nyari belut disawah yang baru
dipanen, dulu orang-orang tidak mengobat sawahnya sehingga berbagai jenis ikan
sawah dan semacamnya masih bisa hidup, seperti peuneuy, asoy, papatong,hurang sawah, simeut, belut, boncenan, bogo, apalagi
ya, kalaupun dilanjutkan juga saya menduga para pembaca tidak akan tahu gimana
bentuknya, nanti penjelasnnya cari di buku kamus bahasa Sunda ya.
Ada diantaranya kami yang
hasil belutnya dibawa ke rumah untuk dimasak oleh ibunya namun ada juga yang
hasilnya langsung dibakar sembari mandi dikali, nah proses membakarnya itu yang
bikin kocak. Lo bayangin, kami membakar ikan belut ditumpukan jerami padi yang
sudah kering, lalu kami taruh ikan belutnya yang sudah dibersihkan, dan setelah
jeraminya abis menjadi arang dan abu, akhirnya kami kesulitan membedakan mana
belut bakar mana jerami, karena ukuran belutnya yang kecil, alhasil niatnya mau
makan sama belut bakar, jadinya makan nasi sama garam doang, mending kalau ada
teman yang bawa masako bisa lebih gurih nasinya, pas garam ga bawa, masak juga
ga bawa, ya sudahlah, makan seadanya yang penting hati senang. Karena abis
bakar belut pasti badan panas, akhirnya kami nyebur lagi ke kali, sampai lupa
waktu dan ternyata domba udah lari ke kebun orang, kalau sudah begitu brabe
ceritanya dombanya akan diusir yang punya kebun, dan yang punya dombanya juga
akan dimarahin hehehe. Lo ga pernah ngalamin kan cerita begitu?.
Sebenarnya ada kisah yang
lebih tragis tentang mandi di kali, yang
usianya seumuran dan masa kecilnya dihabiskan di kali mungkin ada yang ngalami
kisah ini. Jadi biasannya ketika mau mandi temen2 gue pada BAB dlu dihilir
tempat mandi, tapi ada juga teman yang usil, ia langsur nyebur kali barengan
dengan yang lain, kirain doi mau mandi aja ternyata doi ngeluarin telurnya
sembari berenang, alhasil lo bisa bayangin, tiba-tiba muncul penampakan
disekitar tempat lo mandi, dan itu bikin kabur semua teman yang mandi disana.
Lebih parah dari itu ada
juga teman yang konyol dan ngeselin banget, ketika ia lagi ngeluarin telurnya
diambil pakai tangan terus dilembarin ke temennya yang lagi mandi atau lagi
sama buang telur disamping, karena temennya ga terima ya lo bisa bayangin
sekita terjadi perang telur manusia dan gue yakin schene tersebut belum pernah
ada satupun dalam film apapun yang pernah ngangkat kisah anak desa, konyol
banget kan, ah pokonya kisah istimewa masa kecil yang sungguh memprihatinkan
sekaligus seru untuk dikenang.
Masin tentang telur umat
manusia, jadi kisahnya tentang usilnya seorang teman. Biasanya kan kami
mengembala hingga pukul 14 atau 15. Kami setiap hari bawa bekal makanan, tapi
jam 11 biasanya sudah dimakan karena lapar, alhasil jam 13 jam 14 perut udah
keroncongan lagi, nah biasanya itu waktu yang pas dengan jadwal kami mandi
siang di kali, pas lagi ngobrol sama temen2 sambil berjemur dibatu pinggir
kali (lo bisa bayangin gimana angetnya
badan yang dingin terus dijemurin, dan ternyata itu metode bagus banget buat
gosongin warna kulit lo pade haha). Pas lagi ngobrol itulah diantara kami ada yang
nyeletuk, biasanya korbannya anak yang lebih kecil junior usianya. Anak itu
disuruh buka peraman pisang yang dibilangnya udah diperam sejak seminggu yang
lalu, dipinggil kali ditandai dengan batu diatasnya.
Anak kecil kan ga mikir
apa2 apalagi sedang lapar, ia langsung semangat, nyari tempat peraman tersebut,
lalu ia gali dibawah batu, pas udah aga dalem ia melihat ada dauh pisangnya,
wah dia semakin semangat, lalu dengan tangannya mengambil isi dalaman daun
pisang tadi dan terjadilah peristiwa yang sangat memilukan itu, tahukan kau
pada? Ya isi dalam daun pisang itu bukannya pisang beneran melainkan telur
senior yang sengaja dikubur seolah-olah peraman pisang.
Lo bisa banyangkan
bagaimana wajah si junior tadi, harapannya pupus tatkala ia dapati yang dipegang
tangannya bukan sesisir pisang melainkan ditumpung telur seniornya haha. Tapi
jujur bro, itu kejadian-kejadian yang penuh makna, gue yakin kalau sekarang
ngumpul lagi dengan mereka semua, dan cerita lagi tentang kisah2 tersebut,
pasti mereka masih ingat, itulah dalam proses pembelajaran ada yang namanya
meaningfull learning atau pembelajaran yang bermakna, mengapa bisa bermakna?
Karena waktu dan suasanya yang mengesankan. Setiap guru dan dosen harus pandai
mengemas time yang pas agar pembelajarannya dapat bermakna bagi peserta didik
dan mahasiswanya.
Gue rasa untuk edisi ke
empat ini sudah cukup, see you to the
next part on komedi liar natural
hehe. (Amang)

Komentar
Posting Komentar