Mengembala Domba & Kisah Tragis Mandi Di Kali



Serial Komedi “Liar” Natural Part 4

Sumber gambar

Sebelumnya gue mau minta maaf karena episode ini muncul jauh dari episode sebelumnya, memang kemarin ceritanya sedang ada fokus yang lain mulai dari urusan studi dan organisasi tidak kalah juga tentang urusan hati cieeee hati hehe. Sekarang gue mau balik lagi untuk lanjutin celoteh ringannya masih dalam tajuk yang sama yakni Komedi Liar Natural. 

Kali ini gue mau cerita kisah lawas, tepatnya ketika gue masih kanak-kanak sekitar usia 8 tahunan. Usia  tahun berarti gue sedang duduk dikelas 3 SD. Jadi kisahnya begini, sebenarnya masih aga nyambung dengan kisah sebelumnya, tapi ini lebih real hehe. Jadi dulu waktu kecil gue sering ngembala domba bersama kawan-kawan di kampung, karena memang hampir 90% penduduk di daerah gue memelihara hewan ternak domba, sebagian ada juga yang mengembala kambing dan kerbau.

Lo pada tahu ga kenapa orang-orang dikampung gue lebih seneng ngembala domba dibanding kambing? Ada yang bisa jawab? Ya selain Garut terkenal dengan Domba Garutnya, sebenarnya ada alasan lain mengapa masyarakat lebih senang memelihara domba. Pertama domba harga jualnya lebih tinggi dibanding kambing, keduanya berat maksimal domba pada usia tertentu lebih besar dibanding kambing, ketiga domba mau dimandiin sedangkan kambing kagak pernah mau mandi, makanya kandangnya mau kambing, domba bisa mandi minimal seminggu sekali, jadi kalau lo pada ga suka mandi itu artinya ga jauh beda ama kambing, tapi kalau lo masih kadang mandi seminggu sekali itu artinya lo mirip mirip domba gaya hidup bersihnya hehe.

Tapi jujur ya, dulu waktu gue masih ngembala domba, gue tuh rajin banget mandiin domba, kadang tiap hari gue mandiin? Lu tahu kenapa? Pertama tentu biar badannya bersih n ga bau, kedua biasanya kalau domba ga dimandiin makan rumputnya pindah-pindah dan itu bikin pengembala jengkel, beda kalau abis dimandiin, ia lebih kalem dan  mudah dikondisikan tempat makan rumputnya. 

Sebenarnya gue bukan mau cerita tentang kambing, tapi mau cerita yang lain hehe. Ya jadi ketika dulu masuk musim kemarau itu musim yang paling ditunggu karena kami bisa main ke area bekas panen sawah yang bisa kami pakai untuk ngembala domba, maklum di daerah gue ga ada yang namaya padang rumput khusus untuk mengembala, jadinya kalau musim hujan dombanya di ambilin rumput, kaya majikan yang dimasakin dan disediakan makan oleh pembantunya hehe. Manja banget kalau musim hujan domba itu, kalau rumputnya basah domba malas makan rumput. Tapi kalau musim kemarau para pengembala membiarkan domba nyari rumput sendiri karena mau nyabit juga susah. 

Yang paling seru dari kisah tentang mengembala adalah ketika musim liburan sekolah, karena kami tahu selepas liburan pasti wali kelas akan meminta kami untuk menulis karangan selama liburan, dan lho bisa bayangkan kami semua anak kampung, liburannya juga dikampung, ga pernah ada yang liburan ke kota, main ke tempat wisata, sebenarnya udah bisa ditebak karangan kami pasti inti ceritanya sama, bangun tidur, mengembala domba, main layangan, main di kali, berjemur, nyari belut disawah, udah bisa gue tebak hehe, sebenarnya itu memudahkan guru untuk menilai hasil karangan siswanya sih hehe. Mungkin untuk membedakan nilainya pertama bisa dilihat dari bagus tidakya tulisan siswa, kedua dari panjang pendeknya karangan yang dibuat hehe, jadi guru tidak usah baca, cukup gunakan penggaris saja, beliau udah bisa ngasih skor hasil karangan siswanya (ini bukan metode penilaian yang benar ya hehe). 

Ok balik lagi ke inti cerita yang sebenarnya belum tersampaikan juga sih hehe. Jadi gini salah satu aktivitas yang bikin seru waktu mengembala adalah nyari belut disawah yang baru dipanen, dulu orang-orang tidak mengobat sawahnya sehingga berbagai jenis ikan sawah dan semacamnya masih bisa hidup, seperti peuneuy, asoy, papatong,hurang sawah, simeut, belut, boncenan, bogo, apalagi ya, kalaupun dilanjutkan juga saya menduga para pembaca tidak akan tahu gimana bentuknya, nanti penjelasnnya cari di buku kamus bahasa Sunda ya. 

Ada diantaranya kami yang hasil belutnya dibawa ke rumah untuk dimasak oleh ibunya namun ada juga yang hasilnya langsung dibakar sembari mandi dikali, nah proses membakarnya itu yang bikin kocak. Lo bayangin, kami membakar ikan belut ditumpukan jerami padi yang sudah kering, lalu kami taruh ikan belutnya yang sudah dibersihkan, dan setelah jeraminya abis menjadi arang dan abu, akhirnya kami kesulitan membedakan mana belut bakar mana jerami, karena ukuran belutnya yang kecil, alhasil niatnya mau makan sama belut bakar, jadinya makan nasi sama garam doang, mending kalau ada teman yang bawa masako bisa lebih gurih nasinya, pas garam ga bawa, masak juga ga bawa, ya sudahlah, makan seadanya yang penting hati senang. Karena abis bakar belut pasti badan panas, akhirnya kami nyebur lagi ke kali, sampai lupa waktu dan ternyata domba udah lari ke kebun orang, kalau sudah begitu brabe ceritanya dombanya akan diusir yang punya kebun, dan yang punya dombanya juga akan dimarahin hehehe. Lo ga pernah ngalamin kan  cerita begitu?. 

Sebenarnya ada kisah yang lebih tragis tentang  mandi di kali, yang usianya seumuran dan masa kecilnya dihabiskan di kali mungkin ada yang ngalami kisah ini. Jadi biasannya ketika mau mandi temen2 gue pada BAB dlu dihilir tempat mandi, tapi ada juga teman yang usil, ia langsur nyebur kali barengan dengan yang lain, kirain doi mau mandi aja ternyata doi ngeluarin telurnya sembari berenang, alhasil lo bisa bayangin, tiba-tiba muncul penampakan disekitar tempat lo mandi, dan itu bikin kabur semua teman yang mandi disana. 

Lebih parah dari itu ada juga teman yang konyol dan ngeselin banget, ketika ia lagi ngeluarin telurnya diambil pakai tangan terus dilembarin ke temennya yang lagi mandi atau lagi sama buang telur disamping, karena temennya ga terima ya lo bisa bayangin sekita terjadi perang telur manusia dan gue yakin schene tersebut belum pernah ada satupun dalam film apapun yang pernah ngangkat kisah anak desa, konyol banget kan, ah pokonya kisah istimewa masa kecil yang sungguh memprihatinkan sekaligus seru untuk dikenang.

Masin tentang telur umat manusia, jadi kisahnya tentang usilnya seorang teman. Biasanya kan kami mengembala hingga pukul 14 atau 15. Kami setiap hari bawa bekal makanan, tapi jam 11 biasanya sudah dimakan karena lapar, alhasil jam 13 jam 14 perut udah keroncongan lagi, nah biasanya itu waktu yang pas dengan jadwal kami mandi siang di kali, pas lagi ngobrol sama temen2 sambil berjemur dibatu pinggir kali  (lo bisa bayangin gimana angetnya badan yang dingin terus dijemurin, dan ternyata itu metode bagus banget buat gosongin warna kulit lo pade haha). Pas lagi ngobrol itulah diantara kami ada yang nyeletuk, biasanya korbannya anak yang lebih kecil junior usianya. Anak itu disuruh buka peraman pisang yang dibilangnya udah diperam sejak seminggu yang lalu, dipinggil kali ditandai dengan batu diatasnya. 

Anak kecil kan ga mikir apa2 apalagi sedang lapar, ia langsung semangat, nyari tempat peraman tersebut, lalu ia gali dibawah batu, pas udah aga dalem ia melihat ada dauh pisangnya, wah dia semakin semangat, lalu dengan tangannya mengambil isi dalaman daun pisang tadi dan terjadilah peristiwa yang sangat memilukan itu, tahukan kau pada? Ya isi dalam daun pisang itu bukannya pisang beneran melainkan telur senior yang sengaja dikubur seolah-olah peraman pisang. 

Lo bisa banyangkan bagaimana wajah si junior tadi, harapannya pupus tatkala ia dapati yang dipegang tangannya bukan sesisir pisang melainkan ditumpung telur seniornya haha. Tapi jujur bro, itu kejadian-kejadian yang penuh makna, gue yakin kalau sekarang ngumpul lagi dengan mereka semua, dan cerita lagi tentang kisah2 tersebut, pasti mereka masih ingat, itulah dalam proses pembelajaran ada yang namanya meaningfull learning atau pembelajaran yang bermakna, mengapa bisa bermakna? Karena waktu dan suasanya yang mengesankan. Setiap guru dan dosen harus pandai mengemas time yang pas agar pembelajarannya dapat bermakna bagi peserta didik dan mahasiswanya. 

Gue rasa untuk edisi ke empat ini sudah cukup, see you to the next part on komedi liar natural hehe. (Amang)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Komedi Liar Natural

Komedi Liar Natural Part 3